Rabu, 19 Juni 2013

Laporan Praktikum kimia Organik II

I.          TOPIK PERCOBAAN
Topik percobaan kali ini adalah “Esterifikasi”.
II.       TUJUAN PERCOBAAN
1.      Mengetahui pengaruh konsentrasi alkohol terhadap reaksi kesetimbangan pembuatan ester.
2.      Mengetahui pengaruh konsentrasi asam karboksilat terhadap reaksi pembuatan ester.
3.      Mengenal bau khas dari beberapa macam ester.

III.    DASAR TEORI
Ester diturunkan dari asam karboksilat. Sebuah asam karboksilat mengandung gugus -COOH, dan pada sebuah ester hidrogen di gugus ini digantikan oleh sebuah gugus hidrokarbon dari beberapa jenis. Disini kita hanya akan melihat kasus-kasus dimana hidrogen pada gugus -COOH digantikan oleh sebuah gugus alkil, meskipun tidak jauh beda jika diganti dengan sebuah gugus aril (yang berdasarkan pada sebuah cincin benzen).Ester yang paling umum dibahas adalah etil etanoat. Dalam hal ini, hidrogen pada gugus -COOH telah digantikan oleh sebuah gugus etil. Rumus struktur etil etanoat adalah sebagai berikut:
Perhatikan bahwa ester diberi nama tidak sesuai dengan urutan penulisan rumus strukturnya, tapi kebalikannya. Kata "etanoat" berasal dari asam etanoat. Kata "etil" berasal dari gugus etil pada bagian ujung.
Ester dihasilkan apabila asam karboksilat dipanaskan bersama alkohol dengan bantuan katalis asam. Katalis ini biasanya adalah asam sulfat pekat. Terkadang juga digunakan gas hidrogen klorida kering, tetapi katalis-katalis ini cenderung melibatkan ester-ester aromatik (yakni ester yang mengandung sebuah cincin benzen).Reaksi esterifikasi berlangsung lambat dan dapat balik (reversibel). Persamaan untuk reaksi antara sebuah asam RCOOH dengan sebuah alkohol R’OH (dimana R dan R’ bisa sama atau berbeda) adalah sebagai berikut:
Jadi, jika kita membuat etil etanoat dari asam etanoat dan etanol, maka persamaan reaksinya adalah:
Asam karboksilat dan alkohol sering dipanaskan bersama dengan adanya beberapa tetes asam sulfat pekat untuk mengamati bau ester yang terbentuk. Karena reaksi berlangsung lambat dan dapat balik (reversibel), ester yang terbentuk tidak banyak. Bau khas ester seringkali tertutupi atau terganggu oleh bau asam karboksilat. Sebuah cara sederhana untuk mendeteksi bau ester adalah dengan menaburkan campuran reaksi ke dalam sejumlah air di sebuah gelas kimia kecil.Terkecuali ester-ester yang sangat kecil, semua ester cukup tidak larut dalam air dan cenderung membentuk sebuah lapisan tipis pada permukaan. Asam dan alkohol yang berlebih akan larut dan terpisah di bawah lapisan ester.
Ester-ester kecil seperti pelarut-pelarut organik sederhana memiliki bau yang mirip dengan pelarut-pelarut organik (etil etanoat merupakan sebuah pelarut yang umum misalnya pada lem). Semakin besar ester, maka aromanya cenderung lebih ke arah perasa buah buatan – misalnya buah pir. Jika kita ingin membuat sampel sebuah ester yang cukup besar, maka metode yang digunakan tergantung pada (sampai tingkatan tertentu) besarnya ester. Ester-ester kecil terbentuk lebih cepat dibanding ester yang lebih besar. Untuk membuat sebuah ester kecil seperti etil etanoat, kita bisa memanaskan secara perlahan sebuah campuran antara asam metanoat dan etanol dengan bantuan katalis asam sulfat pekat, dan memisahkan ester melalui distilasi sesaat setelah terbentuk. Ini dapat mencegah terjadinya reaksi balik. Pemisahan dengan distilasi ini dapat dilakukan dengan baik karena ester memiliki titik didih yang paling rendah diantara semua zat yang ada. Ester merupakan satu-satunya zat dalam campuran yang tidak membentuk ikatan hidrogen, sehingga memiliki gaya antar-molekul yang paling lemah.
Ester-ester yang lebih besar cenderung terbentuk lebih lambat. Dalam hal ini, mungkin diperlukan untuk memanaskan campuran reaksi di bawah refluks selama beberapa waktu untuk menghasilkan sebuah campuran kesetimbangan. Ester bisa dipisahkan dari asam karboksilat, alkohol, air dan asam sulfat dalam campuran dengan metode distilasi fraksional.Ester juga bisa dibuat dari reaksi-reaksi antara alkohol dengan asil klorida atau anhidrida asam.
Pembuatan ester dari alkohol dan asil klorida (klorida asam), Jika kita menambahkan sebuah asil klorida kedalam sebuah alkohol, maka reaksi yang terjadi cukup progresif (bahkan berlangsung hebat) pada suhu kamar menghasilkan sebuah ester dan awan-awan dari asap hidrogen klorida yang asam dan beruap. Sebagai contoh, jika kita menambahkan etanol krlorida kedalam etanol, maka akan terbentuk banyak hidrogen klorida bersama dengan ester cair etil etanoat.
* 
*      Untuk pembuatan ester dari alkohol dan anhidrida asam reaksi-reaksi dengan anhidrida asam berlangsung lebih lambat dibanding reaksi-reaksi yang serupa dengan asil klorida, dan biasanya campuran reaksi yang terbentuk perlu dipanaskan. Sebagai  contoh etanol yang bereaksi dengan anhidrida etanoat sebagai sebuah reaksi sederhana yang melibatkan sebuah alkohol. Reaksi berlangsung lambat pada suhu kamar (atau lebih cepat pada pemanasan). Tidak ada perubahan yang bisa diamati pada cairan yang tidak berwarna, tetapi sebuah campuran etil etanoat dan asam etanoat terbentuk.

IV.    ALAT DAN BAHAN
1.    Alat
No
Alat
Banyaknya (buah)
1
Tabung berlengan
1
2
Tutup gabus
2
3
Gelas ukur
1
4
Kaki tiga
1
5
Kasa
1
6
Statif + klem + penjepit
1
7
Termometer
1
8
Pembakar bunsen
1

2.    Bahan
No
Bahan
Banyaknya
1
Air
secukupnya
2
CH3COOH
2 ml
3
H2SO4 pekat
2 tetes
4
etanol
2 ml




V.       PROSEDUR KERJA
1.      Isi gelas kimia dengan air (sebagai penangas)
2.      Rangkai pembakar spiritus, kaki tiga, dan kasa. Kemudian letakkan gelas kimia yang telah diisi air diatasnya
3.      Ambil 2 ml CH3COOH masukkan dalm tabung berlengan yang kering
4.      Ambil 2 ml etanol, masukkan kedalam tabung berlengan yang berisi CH3COOH
5.      Masukkan juga H2SO4 pekat sebanyak 2 tetes, tutup dengan pipa gabus
6.      Isi tabung kecil yang terdapat pada pipa gabus dengan air secukupnya (sebagai pendingin)
7.      Jepit tabung pada klem statif, posisikan agar tabung berlengan setengah terendam pada gelas kimia yang berisi air
8.      Nyalakan bunsen, tunggu sampai suhu air dalam gelas kimia sekitar 800C
9.      Jagalah sebisa mungkin agar suhu tetap konstan sampai wanginya tercium.
VI.    HASIL PENGAMATAN
No
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1
Memasukkan 2 ml CH­3COOH kedalam labu berlengan dan ditambahkan dengan 2 ml C2H5OH dan 2 tetes H2SO4 (sebagai katalisator asam)
Tercium bau yang menyengat dari campuran tersebut (seperti bau alkohol) dan warna tetap (tidak berwarna), dipanaskan pada suhu 800C
2
Memanaskan campuran tersebut di atas pembakar bunsen (didalam air panas)
Tercium bau yang lebih menyengat (seperti bau balon gulali) dan warna tetap (tidak berwarna).
Reaksi yang terjadi :   
                                                                   O                                                                                                
CH3COOH + C2H5OH             CH       C
                                                     O       CH2       CH3



VII. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini membahas tentang esterifikasi atau disebut juga dengan reaksi pengesteran. Untuk membuat senyawa ester, pada saat praktikum digunaka asam asetat (CH3COOH) dan etanol (C2H5OH). Ester akan dihasilkan dengan merekasikan antara asam asetat (CH3COOH) sebanyak 2 ml atau 40 tetes bersama larutan etanol (C2H5OH) sebanyak 2 ml atau 40 tetes. Kemudian dibantu dengan larutan H2SO4 (asam sulfat) sebanyak 2 tetes. Larutan H2SO4 (asam sulfat) berfungsi sebagai katalisator asam yang membantu dalam proses esterifikasi. Dari campuran ketiga senyawa tersebut yaitu asam asetat (CH3COOH), etanol (C2H5OH), dan H2SO4, dipanaskan dengan menggunakan air yang sebelumnya telah dipanaskan terlebih dahulu dan mendiamkannya selama ± 15 menit sampai terlihat adanya perubahan bau atau warna pada larutan senyawa tersebut.Reaksi antara asam asetat (CH3COOH) dan etanol (C2H5OH) akan menghasilkan ester. Persamaan reaksi yang terbentuk yaitu:
                                                                O
CH3COOH + C2H5OH        CH      C
                                                              O       CH2       CH3
Dari persamaan reaksi diatas, kita dapat mengetahui bahwa senyawa ester yang terbentuk yaitu etil etanoat. Pada reaksi asam asetat (CH3COOH) dan etanol (C2H5OH) dipanaskan bersama asam sulfat (H2SO4) untuk mengamati bau ester yang terbentuk. Selama proses pemanasan tersebut hanya terjadi perubahan bau menjadi seperti bau balon gulali dan tidak terjadi perubahan warna pada larutan tersebut (tetap berwarna bening).
Reaksi esterifikasi ini berlangsung lambat dan dapat balik atau reversible. Senyawa ester yang terbentuk tidak banyak. Oleh kerena itu baunya sering kali tertutupi atau terganggu oleh bau asam karboksilat. Semua ester cukup tidak larut dalam air dan cenderung membentuk sebuah lapisan tipis pada permukaan kecuali ester-ester yang sangat kecil. Asam dan alkohol yang berlebih akan larut dan terpisah di bawah lapisan ester. Ester-ester kecil seperti pelarut-pelarut organik sederhana memiliki bau yang mirip dengan pelarut-pelarut organik (etil etanoat merupakan sebuah pelarut yang umum misalnya pada lem). Semakin besar ester, maka aromanya cenderung lebih ke arah perasa buah buatan – misalnya "buah pir".
Dari percobaan yang sudah dilakukan sesuai dengan teori yaitu rekasi asam karboksilat dengan alkohol dan sedikit asam kuat sebagai katalisator (biasanya H2SO4) menghasilkan suatu ester. Reaksi esterifikasi reversibel, oleh karena itu, campuran reaksi adalah suatu campuran kesetimbangan dari pereaksi dan hasil reaksi. Mekanisme dari pembentukan ester merupakan proses yang panjang dari langkah-langkah reaksi yang dimulai dengan langkah protonasi. Karena protonasi menambahkan muatan positif ke gugusan karbonil, reaktivitas gugusan ini terhadap nukleofil lemah (pada reaksi ini, alkohol) bertambah.Langkah kedua dalam mekanisme adalah adisi dari alkohol nukleofilik ke gugusan karbonil. Hasil dari langkah ini mengandung gugus -OR.Langkah ketiga, hilangnya proton dari gugus -OR. Langkah keempat protonasi salah satu gugus -OH untuk membentuk gugus hidroksil terprotanasi, -OH. Langkah kelima adalah hilangnya gugusan hidroksil terprotanasi sebagai gugusan yang terbaik yang meninggalkan yaitu H2O. Hasil dari langkah kelima adalah ester terprotonasi, yang kehilangan protonnya pada langkah keenam menghasilkan ester. Semua langkah protonisasi dan deprotonisasi dalam deretan adalah kesetimbangan asam basa yang biasa terjadi dalam keadaan asam.Ester diturunkan dari asam karboksilat. Sebuah asam karboksilat mengandung gugus -COOH, dan pada sebuah ester hidrogen di gugus ini digantikan oleh sebuah gugus hidrokarbon dari beberapa jenis. Dalam hal ini, hidrogen pada gugus -COOH telah digantikan oleh sebuah gugus etil.

VIII.   KESIMPULAN DAN SARAN
1.      Kesimpulan
§  Ester merupakan senyawa turunan karboksilat.
§  Esterfikasi merupakan cara mendapatkan ester dengan cara mereaksikan
§  karboksilat dengan alkohol.
§  Laju reaksi terhadap asam karboksilat sangat bergantung pada efek strerik dari alkohol dan asam karboksilat.
§  Ester bertitik didih dan titik beku lebih rendah dari asam karboksilat penyusunnya.
§  Fungsi pemanasan yaitu mempercepat reaksi.
2.      Saran
Untuk praktikan diharapkan lebih teliti dan bersungguh-sungguh dalam melakukan percobaan.









IX.    DAFTAR PUSTAKA
Fessenden R.J., dan Fessenden J.S.. 1992. Kimia Organik Jilid 2.          Erlangga. Jakarta.
Pudjaatmaka, H.,A., 1992. Kimia Untuk Universitas Jilid 2. Erlangga. Jakarta
Wilbraham, Antony C. 1992. Pengantar Kimia Organik 1. ITB. Bandung